Skip to content

Studi Kelayakan Bisnis: Panduan Lengkap Sebelum Memulai Usaha

Franchise & License Expo Indonesia
投稿日 2 hours ago9分で読めます
Jika ide bisnis sudah ada, jangan terburu-buru mengeksekusinya! Lakukan studi kelayakan bisnis dulu dengan mengikuti panduan di artikel ini!

Tak jarang, ide bisnis tiba-tiba terlintas di kepala dan muncul keinginan untuk segera merealisasikannya. Namun, jangan buru-buru merealisasikan ide bisnis hanya karena terlihat menjanjikan, ya!

Ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan melalui sebuah proses yang disebut studi kelayakan bisnis. Proses ini melibatkan banyak aspek dan tahapan yang terstruktur. Untuk memahaminya secara mendalam, simak penjelasan berikut!

Apa Itu Studi Kelayakan Bisnis?

Studi kelayakan bisnis (feasibility study) adalah kegiatan evaluasi mendalam untuk menguji apakah suatu bisnis layak dijalankan atau tidak. Fokusnya adalah mengidentifikasi situasi bisnis, operasional, potensi masalah, peluang, tujuan, dan manfaat yang mungkin diperoleh.

Melalui studi kelayakan bisnis, Anda dapat menyusun perencanaan yang lebih matang, meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengendalian, serta meminimalkan risiko kerugian. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar dalam mengambil keputusan secara lebih terarah sekaligus mengukur potensi keberhasilan dari rencana bisnis yang sudah disusun.

Aspek Studi Kelayakan Bisnis

Sebenarnya, aspek yang dievaluasi dalam studi kelayakan bisnis bersifat fleksibel. Artinya, Anda dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis. Namun, ada beberapa aspek dasar yang harus masuk dalam daftar, antara lain:

1. Aspek Teknis

Aspek teknis mengarah pada kelayakan operasional, seperti pemilihan lokasi usaha, teknologi yang digunakan, proses dan kapasitas produksi, serta tata letak fasilitas. Aspek ini terbilang sebagai aspek dasar untuk memastikan aktivitas operasional berjalan secara efisien.

2. Aspek Keuangan

Berhubung permodalan adalah hal yang penting dalam usaha, studi kelayakan bisnis harus mengidentifikasi berapa modal yang dibutuhkan untuk membangun dan menjalankan bisnis. Tak berhenti pada modal, analisis juga potensi manfaat yang bisa diperoleh dari modal tersebut.

Studi kelayakan bisnis juga perlu menyoroti kelayakan investasi dengan indikator seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).

Baca juga: Apa Itu Piutang Usaha? Pengertian, Jenis, & Tips Mengelolanya

3. Aspek Manajemen

Aspek manajemen memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari pembangunan hingga pengembangan. Beberapa hal yang masuk dalam aspek ini adalah struktur organisasi, pembagian tugas dan wewenang, kualifikasi SDM, sistem rekrutmen dan penggajian, serta pengawasan kinerja karyawan.

4. Aspek Pemasaran

Aspek pemasaran juga harus dievaluasi karena bisa menunjukkan apakah produk atau layanan yang ditawarkan memiliki peluang yang baik di pasar. Aspek ini umumnya mencakup potensi pasar, daya beli masyarakat, segmentasi, jumlah konsumen, dan persaingan di industri.

5. Aspek Hukum

Kelayakan sebuah bisnis juga ditentukan oleh kepatuhannya terhadap aturan hukum atau legalitas yang berlaku.

Oleh karena itu, studi kelayakan bisnis perlu menganalisis dokumen penting seperti akta pendirian, izin lokasi, NPWP, Nomor Induk Berusaha (NIB), dan perizinan lain yang sesuai dengan bidang dan tingkat risiko usaha. Selain itu, bentuk badan usaha juga perlu ditentukan dalam proses ini.

6. Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Aspek ini berfokus pada pengaruh bisnis terhadap kehidupan masyarakat luas. Dengan adanya bisnis tersebut, apakah akan berdampak pada kesempatan kerja, pendapatan masyarakat, kesejahteraan, atau adat istiadat sekitar.

7. Aspek Lingkungan

Aspek lingkungan harus dianalisis dalam studi kelayakan bisnis karena kegiatan usaha bisa memberikan dampak terhadap lingkungan, baik positif maupun negatif. Terlebih lagi, kini kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan semakin meningkat.

Hal-hal yang termasuk dalam aspek lingkungan antara lain potensi pencemaran, kebisingan, dan penggunaan air. Jika kegiatan usaha berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, diperlukan perencanaan yang jelas untuk mengendalikan dampak tersebut, misalnya melalui pengendalian emisi atau pengolahan limbah.

Tahapan Studi Kelayakan Bisnis

Secara umum, studi kelayakan bisnis dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:

1. Penemuan Ide Bisnis

Tahap pertama adalah menemukan ide atau peluang bisnis yang berpotensi untuk dikembangkan. Anda bisa mencarinya dari masalah yang dihadapi masyarakat, kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi, perubahan tren, atau perkembangan teknologi. 

Kemudian, pikirkan solusi yang bisa Anda tawarkan. Di sini, ide bisnis masih berupa perkiraan kasar sehingga belum otomatis layak direalisasikan.

2. Penelitian

Pada tahap ini, Anda perlu melakukan penelitian untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan ide bisnis terkait. Proses ini penting agar ide bisnis yang muncul dapat dinilai secara objektif menggunakan data dan informasi yang memadai, bukan sekadar asumsi.

Penelitian dilakukan berdasarkan aspek-aspek yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya, mulai dari aspek teknis hingga lingkungan. Informasi yang diperoleh dari penelitian kemudian menjadi bahan untuk mengevaluasi kelayakan ide bisnis.

3. Evaluasi

Selanjutnya, informasi yang sudah didapatkan pada tahap penelitian digunakan untuk menilai ide bisnis. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah potensi hambatan di masing-masing aspek yang mungkin muncul saat bisnis berjalan.

Di sini, pelaku usaha perlu menilai apakah keunggulan yang bisnis miliki mampu mengatasi hambatan-hambatan tersebut. 

4. Penentuan

Setelah melakukan serangkaian evaluasi, idealnya Anda sudah bisa menentukan apakah ide bisnis terkait layak untuk direalisasikan. Jika layak, Anda bisa langsung mengeksekusinya sesuai rencana. Namun, jika tidak layak, Anda dapat mencari peluang bisnis lain.

5. Rencana Pelaksanaan

Tahap ini merupakan tahap lanjutan jika ide bisnis layak direalisasikan. Gunakan hasil studi kelayakan bisnis sebagai pedoman dalam menyusun rencana bisnis yang lebih konkret. 

Hasil studi yang dimaksud adalah kesimpulan dari proses penelitian dan evaluasi yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.

6. Pelaksanaan

Setelah rencana selesai disusun, tahap berikutnya adalah pelaksanaan. Namun, pelaksanaan bukanlah tahap final. Anda tetap harus melakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah rencana yang telah dibuat bisa berjalan dengan baik atau justru membutuhkan perbaikan.

Dengan cara ini, Anda dapat mengetahui perkembangan pelaksanaan bisnis dan melakukan penyesuaian jika memang diperlukan.

Baca juga: Mau Buka Usaha di Ruko? Simak Ide Bisnis Populer yang Lagi Diminati

Contoh Studi Kelayakan Bisnis

Berikut ini contoh studi kelayakan bisnis dari sektor ritel dan makanan:

1. Contoh Studi Kelayakan Bisnis Bucket Bunga dan Hadiah

Ide Bisnis

Jasa pembuatan bucket bunga dan hadiah untuk memenuhi kebutuhan akan hadiah praktis di berbagai momen, seperti wisuda atau hari spesial lainnya. Produk dapat dibuat berdasarkan pesanan sehingga pilihan bunga, isi hadiah, ukuran, dan desain dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Aspek Teknis

Produksi membutuhkan bahan seperti bunga, kertas wrapping, pita, kartu ucapan, serta beberapa peralatan sederhana. Bisnis dapat dijalankan dari rumah dengan produksi berdasarkan jumlah pesanan.

Aspek Keuangan

Modal awal digunakan untuk membeli peralatan, bahan baku, kemasan, dan kebutuhan operasional lainnya. Perhitungan biaya produksi dan harga jual menunjukkan potensi margin keuntungan dari setiap bucket yang terjual.

Aspek Manajemen

Pada tahap awal, pemilik dapat menangani produksi, pemasaran, pelayanan pelanggan, dan keuangan secara mandiri. Jika pesanan meningkat, bisnis dapat menambah tenaga kerja untuk membantu produksi.

Aspek Pemasaran

Target pasar meliputi pelajar, mahasiswa, pekerja, dan masyarakat umum yang membutuhkan hadiah untuk berbagai momen. Pemasaran dapat memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Aspek Hukum

Pemilik perlu mengurus legalitas dan perizinan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta memperhatikan ketentuan terkait penggunaan merek jika menggunakan merek sendiri.

Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Bisnis dapat memberikan manfaat ekonomi dengan melibatkan pemasok dan tenaga kerja lokal. Produk juga sesuai dengan kebiasaan masyarakat dalam memberikan hadiah pada berbagai momen perayaan.

Aspek Lingkungan

Kegiatan produksi menghasilkan limbah seperti sisa bunga, kertas wrapping, dan plastik. Dampaknya dapat diminimalkan dengan mengurangi penggunaan kemasan berlebihan serta mengelola sisa bahan produksi.

Estimasi Keuangan

Estimasi Modal Awal

  • Peralatan produksi: Rp1.500.000

  • Bahan baku awal: Rp2.000.000

  • Kemasan dan perlengkapan: Rp500.000

  • Promosi awal: Rp500.000

  • Lain-lain: Rp500.000

Total modal awal: Rp5.000.000

Biaya Produksi per 1 Bucket

  • Bunga dan isi hadiah: Rp50.000

  • Wrapping dan pita: Rp15.000

  • Kartu ucapan dan aksesori: Rp5.000

  • Lain-lain: Rp5.000

Total biaya: Rp75.000

Harga jual per bucket: Rp125.000

Laba kotor per bucket: Rp50.000

Simulasi Penjualan

  • 4 bucket/hari × Rp50.000 = Rp200.000 laba kotor/hari

  • 26 hari × Rp200.000 = Rp5.200.000 laba kotor/bulan

Berdasarkan simulasi tersebut, modal awal secara sederhana berpotensi kembali dalam waktu sekitar satu bulan jika penjualan mencapai target dan laba kotor dapat dipertahankan. Namun, perhitungan tersebut belum memperhitungkan biaya operasional lain, seperti listrik, transportasi, biaya platform, dan penyusutan peralatan.

2. Contoh Studi Kelayakan Bisnis Agen Frozen Food

Ide Bisnis

Usaha agen frozen food untuk memenuhi kebutuhan akan makanan yang praktis dan mudah disimpan. Berbagai produk seperti nugget, sosis, bakso, dimsum, dan kentang beku dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Aspek Teknis

Bisnis membutuhkan freezer, rak penyimpanan, timbangan, kemasan, serta pasokan listrik yang memadai. Produk harus disimpan sesuai petunjuk penyimpanan agar kualitasnya tetap terjaga.

Aspek Keuangan

Modal awal digunakan untuk membeli freezer, stok produk, perlengkapan penyimpanan, dan kebutuhan operasional lainnya. Selisih antara harga beli dan harga jual menjadi sumber margin keuntungan bisnis.

Aspek Manajemen

Pada tahap awal, pemilik dapat menangani pembelian produk, pengelolaan stok, pelayanan pelanggan, pemasaran, dan pencatatan keuangan. Jika penjualan meningkat, tenaga kerja tambahan dapat dipertimbangkan.

Aspek Pemasaran

Target pasar meliputi rumah tangga, mahasiswa, pekerja, serta pelaku usaha kuliner. Pemasaran dapat dilakukan melalui WhatsApp, media sosial, marketplace, dan layanan pesan-antar untuk menjangkau konsumen di sekitar lokasi usaha.

Aspek Hukum

Pemilik perlu mengurus legalitas dan perizinan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Produk yang dijual juga perlu memenuhi ketentuan terkait keamanan, informasi, dan peredaran pangan sesuai jenis produknya.

Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Bisnis dapat membantu masyarakat memperoleh produk makanan praktis sekaligus membuka lapangan kerja. Agen juga dapat bekerja sama dengan produsen atau UMKM frozen food lokal untuk menyediakan produk.

Aspek Lingkungan

Penggunaan freezer membutuhkan energi listrik, sedangkan produk frozen food umumnya menggunakan kemasan plastik. Dampak tersebut dapat diminimalkan dengan mengelola penggunaan energi dan sampah kemasan dengan baik.

Estimasi Keuangan

Estimasi Modal Awal

  • Freezer: Rp4.000.000

  • Stok frozen food awal: Rp3.000.000

  • Rak dan perlengkapan: Rp500.000

  • Kemasan: Rp300.000

  • Promosi awal: Rp500.000

  • Lain-lain: Rp200.000

Total modal awal: Rp8.500.000

Biaya dan Harga Jual per Produk

  • Harga beli rata-rata: Rp20.000

  • Kemasan dan biaya lain: Rp2.000

Total biaya per produk: Rp22.000

Harga jual rata-rata per produk: Rp27.000

Laba kotor per produk: Rp5.000

Simulasi Penjualan

  • 30 produk/hari × Rp5.000 = Rp150.000 laba kotor/hari

  • 26 hari × Rp150.000 = Rp3.900.000 laba kotor/bulan

Berdasarkan simulasi tersebut, modal awal secara sederhana berpotensi kembali dalam waktu sekitar 2–3 bulan jika penjualan mencapai target dan laba kotor dapat dipertahankan. Namun, perhitungan tersebut belum memperhitungkan biaya operasional lain, seperti listrik, transportasi, biaya platform, dan produk yang rusak atau tidak terjual.

Itulah penjelasan mengenai studi kelayakan bisnis sebagai proses penting untuk mengubah ide menjadi keputusan usaha yang lebih terukur. Dengan melakukan studi kelayakan secara cermat, Anda dapat menganalisis dan membandingkan berbagai peluang bisnis sebelum menentukan pilihan yang paling sesuai.

Nah, jika Anda sedang mencari peluang bisnis, terutama yang membuka skema franchise, agendakan untuk berkunjung ke Franchise & License Expo Indonesia (FLEI)

Pameran bisnis ini mempertemukan ratusan hingga ribuan audiens, termasuk para pemilik brand, pelaku usaha, calon mitra, bahkan investor yang tertarik mendukung pengembangan usaha di berbagai sektor.

Bagi pemilik brand yang bergabung sebagai exhibitor, FLEI menjadi kesempatan untuk mengenalkan bisnis secara langsung sekaligus berdiskusi dengan calon mitra franchise yang sesuai. Bisa jadi, salah satunya adalah Anda. 

Siap bertemu dengan berbagai peluang bisnis menarik dan menemukan pilihan yang sesuai untuk Anda? Yuk, hubungi tim kami untuk mengetahui jadwal pameran terdekat. Jangan lupa juga follow akun Instagram @fleiexpoid agar tidak ketinggalan update menarik seputar pameran, ya!

Baca juga: 10 Franchise Kopi yang Populer dan Berpotensi Cuan, Catat!

この記事をシェア