Skip to content

Rumus & Cara Menghitung Laba Bersih Bisnis, Mudah!

Franchise & License Expo Indonesia
Diposting 6 days ago7 menit baca
Mau tahu cara menghitung total keuntungan dari bisnis Anda? Yuk, telusuri rumus dan cara menghitung laba bersih lengkap dengan contohnya di sini.

Saat menjalankan bisnis, banyak pemilik usaha hanya fokus mengejar angka penjualan setinggi mungkin. Padahal, omzet yang besar belum tentu berarti bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan, lho. 

Sebab, dalam dunia bisnis, ada istilah yang dikenal dengan laba bersih, yang bukan hanya menunjukkan berapa banyak uang yang berhasil diperoleh perusahaan, tetapi juga menjadi indikator apakah strategi bisnis yang dijalankan sudah efektif dan menguntungkan.

Yuk, pelajari pengertian hingga cara menghitung laba bersih lengkap dengan contohnya di artikel ini!

Apa Itu Laba Bersih?

Laba bersih adalah keuntungan akhir yang diperoleh perusahaan setelah seluruh pendapatan dikurangi dengan seluruh beban dan biaya selama satu periode akuntansi. 

Biaya tersebut mencakup Harga Pokok Penjualan (HPP), biaya operasional, beban pemasaran, gaji karyawan, sewa, penyusutan aset, bunga pinjaman, hingga pajak. Dalam istilah akuntansi internasional, laba bersih dikenal sebagai net income atau net profit.

Karena merupakan angka keuntungan yang benar-benar tersisa, laba bersih sering disebut sebagai bottom line, sebab ia biasanya berada di bagian paling bawah dalam laporan laba rugi (income statement), setelah seluruh komponen pendapatan dan beban diperhitungkan.

Apa Bedanya Omzet dan Laba Bersih?

Masih banyak pelaku usaha yang menganggap omzet dan laba bersih adalah hal yang sama. Padahal, keduanya merupakan dua indikator keuangan yang memiliki fungsi dan makna yang sangat berbeda.

Sederhananya, omzet menunjukkan seberapa besar uang yang berhasil dihasilkan dari penjualan, sedangkan laba bersih menunjukkan berapa keuntungan yang benar-benar tersisa setelah seluruh biaya bisnis dibayarkan. 

Dengan kata lain, omzet menggambarkan kemampuan bisnis menghasilkan penjualan, sementara laba bersih mencerminkan efektivitas bisnis dalam mengelola biaya dan menghasilkan keuntungan.

Baca juga: Cara Menghitung BEP (Break Even Point), Rumus & Contohnya!

Mengapa Bisnis Perlu Menghitung Laba Bersih dengan Tepat?

Sebelum mempelajari cara menghitung laba bersih, Anda perlu memahami terlebih dahulu mengapa angka ini menjadi salah satu indikator keuangan yang paling penting dalam tahapan proses bisnis. Berikut beberapa alasannya:

  • Mengetahui kondisi keuangan bisnis yang sebenarnya setelah seluruh biaya dikurangi.

  • Menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis. 

  • Mengukur efisiensi operasional perusahaan. 

  • Mengevaluasi profitabilitas dari waktu ke waktu. 

  • Membantu menentukan strategi harga yang tepat.

  • Meningkatkan kepercayaan investor dan lembaga pembiayaan. 

  • Menjadi dasar perhitungan berbagai rasio keuangan, seperti NPM, ROA, ROE, dan lainnya. 

  • Mendukung penyusunan laporan keuangan dan kepatuhan pajak. 

  • Membantu menyusun target dan anggaran bisnis. 

Faktor Biaya yang Dapat Memengaruhi Laba Bersih

Jika ingin mengetahui cara menghitung laba bersih, pahami dulu berbagai komponen biaya yang memengaruhinya, seperti: 

1. Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga Pokok Penjualan (HPP) atau Cost of Goods Sold (COGS) merupakan biaya langsung yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau jasa yang dijual kepada pelanggan. Contohnya:

  • Bahan baku.

  • Tenaga kerja langsung.

  • Biaya produksi langsung.

  • Biaya manufaktur yang berkaitan dengan proses produksi.

2. Biaya Operasional

Biaya operasional (Operating Expenses/OPEX) adalah seluruh biaya yang diperlukan agar bisnis tetap berjalan, tetapi tidak berkaitan langsung dengan proses produksi. Contohnya seperti gaji karyawan, biaya sewa kantor atau toko, listrik, air, internet, dan lainnya. 

3. Beban Penjualan dan Pemasaran

Untuk meningkatkan penjualan, perusahaan biasanya mengeluarkan berbagai biaya pemasaran, seperti untuk iklan digital, promosi, diskon, endorsement, dll.

4. Beban Administrasi dan Umum

Beban administrasi (General and Administrative Expenses/G&A) juga berpengaruh dalam cara menghitung laba bersih. Adapun biaya G&A ini mencakup biaya atas pengelolaan perusahaan secara keseluruhan, misalnya honorarium manajemen, biaya legal, jasa akuntan, biaya audit, biaya perizinan, dan masih banyak lagi. 

Baca juga: 8 Cara Memulai Bisnis dari Nol & Tips Suksesnya, Catat!

5. Penyusutan dan Amortisasi

Banyak pelaku usaha mengira penyusutan (depreciation) bukanlah biaya karena tidak mengeluarkan kas setiap bulan. Padahal, dalam akuntansi, penyusutan tetap dicatat sebagai beban yang mengurangi laba bersih.

Biaya-biaya ini termasuk alokasi biaya atas aset tetap, seperti mesin produksi, kendaraan operasional, dan biaya gedung. Sementara itu, amortisasi berlaku untuk aset tidak berwujud, seperti lisensi, hak paten, dan lainnya. 

6. Beban Bunga Pinjaman

Apabila perusahaan menggunakan pinjaman bank atau fasilitas kredit usaha, maka bunga pinjaman akan dicatat sebagai beban bunga (interest expense).

Semakin besar pinjaman dan semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besar pula beban bunga yang harus dibayarkan. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada cara menghitung laba bersih. 

7. Pajak Penghasilan

Setelah perusahaan memperoleh laba sebelum pajak (profit before tax), perusahaan masih harus memenuhi kewajiban perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Besarnya pajak dapat berbeda, tergantung sejumlah faktor, seperti besarnya laba kena pajak, insentif perpajakan yang diperoleh, regulasi perpajakan yang berlaku, dan struktur usaha perusahaan.

8. Biaya Tak Terduga

Dalam praktik bisnis, tidak semua biaya dapat diprediksi sejak awal. Perusahaan juga dapat menghadapi berbagai pengeluaran yang bersifat insidental, misalnya kerusakan mesin produksi, retur barang dalam jumlah besar, denda, dan masih banyak lagi. 

Rumus Cara Menghitung Laba Bersih

Setelah memahami berbagai faktor yang memengaruhi laba bersih, sekarang mari mempelajari cara menghitung laba bersih. 

Pada dasarnya, laba bersih diperoleh dengan mengurangi seluruh biaya dan beban dari total pendapatan yang diperoleh perusahaan selama satu periode akuntansi.

Rumus sederhananya adalah sebagai berikut.

Laba Bersih = Total Pendapatan - Total Biaya

Namun, dalam praktik akuntansi dan penyusunan laporan laba rugi, perhitungan laba bersih biasanya dilakukan secara bertahap. 

Pendapatan akan dikurangi terlebih dahulu dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk memperoleh laba kotor (gross profit). 

Selanjutnya, laba kotor dikurangi berbagai beban operasional, beban bunga, pajak, serta beban lainnya hingga diperoleh laba bersih (net income).

Secara lebih lengkap, rumusnya dapat ditulis sebagai berikut.

Laba Bersih = Pendapatan - HPP - Biaya Operasional - Beban Penjualan & Administrasi - Beban Bunga - Pajak ± Pendapatan atau Beban Lainnya

Keterangan:

  • Pendapatan: Seluruh hasil penjualan barang atau jasa dalam satu periode.

  • Harga Pokok Penjualan (HPP): Biaya langsung untuk menghasilkan produk atau jasa.

  • Biaya Operasional: Biaya yang mendukung aktivitas bisnis.

  • Beban Penjualan dan Administrasi: Biaya pemasaran, promosi, komisi, perlengkapan kantor, hingga biaya administrasi.

  • Beban Bunga: Bunga atas pinjaman atau kredit usaha.

  • Pajak: Pajak penghasilan yang menjadi kewajiban perusahaan.

  • Pendapatan atau Beban Lainnya: Transaksi di luar kegiatan operasional utama.

Baca juga: Cara Menghitung ROI Sebelum Membeli Franchise Agar Tidak Rugi

Contoh Cara Menghitung Laba Bersih

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana perhitungan laba bersih pada sebuah bisnis kuliner.

Misalkan Restoran ABC memperoleh data keuangan selama bulan Juni sebagai berikut:

image

Maka contoh cara menghitung laba bersih dari bisnis tersebut adalah:

1. Hitung Laba Kotor

Rp500.000.000 - Rp220.000.000 = Rp280.000.000

2. Hitung Total Biaya Selain HPP

Jumlahkan semua total biaya selain HPP, maka:

Rp70.000.000 + Rp20.000.000 + Rp8.000.000 + Rp12.000.000 + Rp5.000.000 + Rp3.000.000 + Rp18.000.000

Total biaya = Rp136.000.000

3. Hitung Laba Bersih

Laba Bersih = Laba Kotor - Total Biaya

Rp280.000.000 - Rp136.000.000 = Rp144.000.000

Artinya, meskipun restoran memperoleh omzet sebesar Rp500 juta, keuntungan yang benar-benar menjadi hasil usaha setelah seluruh biaya dibayarkan adalah Rp144 juta.

Demikian pembahasan mengenai laba bersih, mulai dari pengertian, perbedaannya dengan omzet, faktor-faktor yang memengaruhi, hingga cara menghitung laba bersih dengan benar. 

Dengan memahami laba bersih, Anda tidak hanya mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dapat mengevaluasi efisiensi operasional dan menyusun strategi pertumbuhan bisnis yang lebih tepat.

Nah, jika bisnis Anda sudah memiliki profit yang sehat, sistem operasional yang matang, dan mulai siap berekspansi melalui skema franchise atau kemitraan, inilah saat yang tepat untuk memperkenalkan peluang bisnis tersebut kepada lebih banyak calon investor dan mitra.

Salah satu caranya adalah dengan bergabung sebagai exhibitor di Franchise & License Expo Indonesia (FLEI).

FLEI Business Show adalah pameran franchise yang mempertemukan pemilik brand dengan ribuan calon mitra, investor, dan pelaku usaha yang memang datang untuk mencari peluang bisnis baru. 

Selain bisa memperluas eksposur brand, Anda juga berkesempatan membangun jaringan, melakukan business matching, hingga membuka peluang kerja sama yang dapat mempercepat ekspansi bisnis.

Jadi, apabila bisnis Anda siap naik ke level berikutnya dan ingin mengembangkan jaringan franchise atau kemitraan di seluruh Indonesia? Yuk, daftarkan brand Anda sebagai exhibitor di FLEI Business Show. 

Siapa tahu, langkah tersebut menjadi awal lahirnya puluhan bahkan ratusan cabang baru yang membawa bisnis Anda berkembang semakin pesat! Untuk mengetahui jadwal pameran terdekat, Anda bisa menghubungi tim kami. Jangan lupa juga untuk mengikuti akun Instagram kami di @fleiexpoid agar tak ketinggalan informasi seputar pameran, ya!

Baca juga: Joint Venture: Definisi, Dasar Hukum, Risiko, & Contohnya

Share artikel ini