Skip to content

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) & Contohnya

Franchise & License Expo Indonesia
Posted 11 hours ago5 mins read
Perhitungan HPP perlu mengikuti rumus agar Anda bisa memperkirakan harga jual, laba, dan biaya lainnya. Ini dia cara menghitung HPP dan contohnya.

HPP adalah istilah yang hampir pasti akan Anda temui ketika mulai menjalankan bisnis, baik sebagai pemilik usaha, pelaku UMKM, maupun calon entrepreneur yang baru merintis usaha. 

Pasalnya, HPP memang termasuk salah satu komponen penting yang menentukan apakah sebuah bisnis dapat memperoleh keuntungan atau justru mengalami kerugian.

Lantas, apa itu HPP dan mengapa komponen ini perlu diperhitungkan dengan saksama? Selain itu, bagaimana cara menghitung HPP agar akurat dan bisa menguntungkan bisnis? Yuk, temukan semua jawabannya di bawah ini. 

Apa Itu HPP?

HPP adalah singkatan dari Harga Pokok Penjualan. Dalam dunia bisnis, HPP adalah total biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan atau memperoleh barang yang kemudian dijual kepada pelanggan dalam periode tertentu. 

Dalam istilah akuntansi internasional, HPP dikenal sebagai Cost of Goods Sold (COGS). Secara garis besar, nilai HPP mencakup biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan produk yang dijual, seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya produksi lainnya.

Tak jarang, HPP juga menunjukkan berapa biaya yang harus dikeluarkan bisnis untuk menghasilkan produk yang berhasil terjual. 

Oleh karena itu, HPP kerap menjadi salah satu komponen utama dalam laporan laba rugi dan berperan penting dalam menentukan keuntungan perusahaan.

Mengapa Harga Pokok Penjualan Perlu Diperhitungkan?

Jika Anda masih bertanya-tanya mengapa sebagai pebisnis perlu mengetahui cara menghitung HPP, jawabannya sederhana, yaitu karena HPP merupakan dasar untuk mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan atau tidak.

Banyak pelaku usaha yang berfokus pada peningkatan penjualan dan omzet, tetapi kurang memperhatikan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk yang dijual. 

Akibatnya, bisnis bisa terlihat ramai, pesanan terus berdatangan, dan omzet terus bertambah, tetapi keuntungan yang diperoleh ternyata sangat kecil. 

Bahkan dalam beberapa kasus, bisnis sebenarnya mengalami kerugian tanpa disadari karena harga jual yang ditetapkan lebih rendah daripada biaya yang dikeluarkan.

Dengan mengetahui cara menghitung BPP, sebagai pelaku bisnis, Anda bisa:

  • Menentukan harga jual yang lebih akurat.

  • Mengetahui margin keuntungan yang sebenarnya.

  • Menghindari risiko kesalahan dalam penetapan harga jual.

  • Mengontrol biaya produksi dengan lebih efektif.

  • Mengidentifikasi potensi pemborosan dalam proses produksi.

  • Membantu menentukan strategi promosi tanpa mengorbankan profitabilitas bisnis.

  • Mengetahui produk yang paling menguntungkan.

  • Menyusun target penjualan yang lebih realistis.

  • Mempermudah perencanaan cash flow dan kebutuhan modal usaha.

Baca juga: Cara Menghitung ROI Sebelum Membeli Franchise Agar Tidak Rugi

Komponen HPP

Sebelum lebih lanjut mempelajari cara menghitung HPP, Anda perlu mengetahui sejumlah komponen HPP yang saling berkaitan dan membentuk total biaya barang yang berhasil dijual dalam suatu periode, di antaranya sebagai berikut:

1. Persediaan Awal (Beginning Inventory)

Persediaan awal adalah jumlah stok barang yang sudah dimiliki perusahaan pada awal periode akuntansi, misalnya awal bulan atau awal tahun.

Stok ini merupakan sisa dari periode sebelumnya yang belum terjual dan kemudian dibawa ke periode berjalan. Contohnya:

  • Stok barang di gudang pada 1 Januari.

  • Sisa produk yang belum terjual dari bulan sebelumnya.

2. Pembelian Bersih (Net Purchases)

Pembelian bersih adalah total seluruh pembelian barang dagang yang dilakukan perusahaan selama periode berjalan, setelah dikurangi retur dan potongan pembelian 

3. Persediaan Akhir (Ending Inventory)

Persediaan akhir adalah jumlah stok barang yang masih tersisa di gudang pada akhir periode akuntansi.

Stok ini belum terjual, sehingga tidak termasuk dalam HPP, karena HPP hanya mencakup barang yang benar-benar sudah terjual.

Semakin besar persediaan akhir, biasanya semakin kecil nilai HPP, karena lebih banyak barang yang belum terjual dan masih tercatat sebagai aset persediaan.

4. Komponen Tambahan

Dalam beberapa sektor bisnis, terutama manufaktur, HPP juga bisa mencakup komponen tambahan seperti:

  • Biaya bahan baku langsung.

  • Biaya tenaga kerja langsung.

  • Biaya overhead pabrik (listrik produksi, sewa pabrik, mesin, dan lainnya).

Baca juga: 8 Cara Memulai Bisnis dari Nol & Tips Suksesnya, Catat!

Rumus Cara Menghitung HPP 

Berikut adalah rumus dan cara menghitung HPP dalam bisnis:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

Catatan:

  • Persediaan awal: Nilai stok barang yang tersedia di awal periode.

  • Pembelian bersih: Total pembelian barang selama periode, setelah dikurangi retur dan diskon, serta ditambah biaya angkut pembelian.

  • Persediaan akhir: Nilai stok yang masih tersisa di akhir periode.

Contoh Perhitungan HPP

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh cara menghitung HPP pada bisnis di kategori F&B:

Data Bisnis:

  • Persediaan awal: Rp5.000.000.

  • Pembelian bahan selama bulan berjalan: Rp12.000.000.

  • Retur pembelian: Rp500.000.

  • Diskon dari supplier: Rp300.000.

  • Biaya angkut pembelian: Rp800.000.

  • Persediaan akhir: Rp4.000.000.

1. Hitung Pembelian Bersih

Pembelian Bersih = Pembelian + Biaya Angkut − Retur − Diskon

Pembelian Bersih = Rp12.000.000 + Rp800.000 − Rp500.000 − Rp300.000

Pembelian Bersih = Rp12.000.000

2. Hitung HPP

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

HPP = Rp5.000.000 + Rp12.000.000 − Rp4.000.000

HPP = Rp13.000.000

Nah, dari perhitungan di atas, artinya, total biaya barang yang benar-benar terjual selama periode tersebut adalah Rp13.000.000

Setelah mengetahui angka HPP, angka ini akan digunakan untuk menghitung laba kotor dengan rumus berikut:

Laba Kotor = Penjualan Bersih − HPP

Demikian informasi seputar HPP, mulai dari pengertian, manfaat, komponen, rumus, hingga cara menghitung HPP dalam bisnis. 

Dengan memahami HPP secara tepat, Anda dapat menentukan harga jual yang lebih akurat, menghitung keuntungan secara realistis, serta mengelola biaya usaha dengan lebih efisien.

Namun, memahami HPP saja belum cukup untuk membangun bisnis yang benar-benar sehat dan berkelanjutan, ya. 

Anda juga perlu melihat gambaran yang lebih besar, mulai dari jenis usaha yang paling relevan dengan pasar, peluang ekspansi yang tersedia, hingga strategi pengembangan bisnis yang sesuai dengan kapasitas modal dan arah pertumbuhan brand Anda.

Di titik inilah pameran Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) bisa menjadi ruang yang sangat strategis agar Anda bisa langsung bertemu dengan banyak pelaku usaha dan pasar yang lebih luas.

Jika Anda adalah pemilik bisnis yang ingin memperluas jangkauan, meningkatkan brand exposure, serta membuka peluang kemitraan baru, mari daftarkan brand Anda sebagai exhibitor di FLEI Business Show!

Di sini, brand Anda berkesempatan untuk bertemu langsung dengan calon mitra bisnis, investor, hingga pelaku industri dari berbagai sektor. 

Selain itu, Anda juga dapat mempresentasikan model bisnis secara langsung, membangun kredibilitas brand di hadapan audiens yang relevan, serta membuka ruang diskusi mengenai skema kemitraan, kebutuhan investasi, hingga potensi pengembangan outlet di berbagai daerah.

Nah, untuk informasi lebih lengkap mengenai FLEI Business Show dan jadwal pameran terdekat, silakan hubungi tim kami, ya!

Jangan lupa juga untuk mengikuti Instagram kami di @fleiexpoid agar selalu mendapatkan update terbaru seputar pameran, peluang bisnis, dan tren franchise di Indonesia.

Baca juga: 13 Ide Usaha yang Menjanjikan dengan Modal Kecil, Catat!


Share this post