Di tengah maraknya model bisnis berbasis brand dan sistem siap pakai, istilah royalty fee semakin sering muncul dan menjadi bagian penting dalam kerja sama bisnis.
Meski begitu, tidak semua orang memahami konsep dari royalty fee dan sering kali menganggapnya sebagai biaya tambahan semata.
Padahal, singkatnya, royalty fee adalah biaya yang memang perlu dibayarkan sebagai imbalan atas penggunaan hak brand, dukungan operasional, serta akses ke standar bisnis yang telah terbukti.
Nah, untuk memahami konsep sepenuhnya dari royalty fee, yuk, simak pembahasan di bawah ini hingga tuntas.
Apa Itu Royalty Fee?
Royalty fee adalah biaya yang dibayarkan secara berkala oleh pihak penerima hak (seperti mitra franchise atau lisensi) kepada pemilik merek, produk, atau sistem bisnis sebagai kompensasi atas penggunaan hak kekayaan intelektual tersebut.
Biaya ini biasanya dibayarkan dalam periode tertentu, bisa dalam kurun waktu bulanan atau berdasarkan persentase dari omzet, selama kerja sama bisnis masih berlangsung.
Dalam praktiknya, besaran royalty fee dapat bervariasi tergantung pada kekuatan brand, tingkat dukungan yang diberikan, serta skala bisnisnya.
Di luar sana, ada bisnis yang menetapkan biaya royalti dalam bentuk persentase dari penjualan (misalnya 3%–10% dari omzet) dan ada juga yang menggunakan skema biaya tetap.
Namun, sejatinya tidak semua brand atau bisnis mengharuskan mitranya membayar royalty fee. Di beberapa model bisnis, ada juga yang meniadakan biaya royalti dan lebih memilih untuk mengambil keuntungan dari komponen lain, seperti margin bahan baku atau lainnya.
Royalty Fee dan Franchise Fee, Apakah Berbeda?
Sekilas, royalty fee dan franchise fee sering dianggap sama, karena baik franchise fee maupun royalty fee adalah biaya yang perlu dikeluarkan dalam skema kerja sama bisnis franchise.
Namun, perlu diketahui bahwa keduanya memiliki fungsi, waktu pembayaran, hingga tujuan yang sangat berbeda.
Sebagai gambaran, franchise fee adalah biaya awal one-time fee yang dibayarkan oleh calon mitra kepada pemilik brand sebelum bisnis mulai berjalan.
Biaya ini memang dibayarkan sekali di awal sebagai "tiket masuk" untuk bergabung ke dalam suatu sistem franchise.
Sementara itu, royalty fee adalah biaya berkelanjutan (ongoing fee) yang dibayarkan secara rutin selama bisnis masih beroperasi, dan umumnya dihitung berdasarkan persentase dari omzet (bukan profit) sebagai bentuk kompensasi kepada pemilik brand.
Baca juga: 6 Perbedaan Franchise dan Kemitraan, Jangan Tertukar!
Skema Penentuan Franchise Fee dan Royalty Fee
Dalam bisnis franchise, penentuan franchise fee dan royalty fee harus dihitung secara strategis agar tetap menarik bagi calon mitra sekaligus mampu menjaga keberlangsungan bisnis dari sisi franchisor. Berikut adalah beberapa skema penentuan biayanya:
Penentuan Franchise Fee
Market Oriented: Franchisor akan melihat standar biaya yang berlaku di industri sejenis.
Customer Oriented: Franchisor akan mempertimbangkan daya beli target mitra atau calon franchisee.
Cost Oriented: Franchisor akan menghitung seluruh komponen biaya yang dikeluarkan untuk membangun dan menjalankan sistem franchise.
Penentuan Royalty Fee
Khusus untuk royalty fee, terdapat dua model perhitungan yang paling umum digunakan dalam praktiknya, yaitu:
Fixed Royalty: Biaya tetap yang harus dibayarkan setiap periode, terlepas dari naik turunnya omzet.
Margin Royalty: Biaya yang dihitung berdasarkan persentase dari pendapatan kotor.
Contoh Royalty Fee
Agar lebih mudah dipahami, mari meninjau contohnya dalam praktik nyata. Berikut adalah contoh royalty fee berdasarkan skema penentuannya:
1. Contoh Fixed Royalty Fee
Pada skema ini, franchisee diwajibkan membayar sejumlah biaya yang nominalnya sudah ditentukan di awal dan tidak berubah, terlepas dari kondisi bisnis.
Misalnya, sebuah brand menetapkan royalty fee sebesar Rp10 juta per bulan. Artinya, berapa pun omzet yang dihasilkan, baik sedang ramai atau sepi, mitra tetap harus membayar jumlah tersebut secara konsisten setiap periode.
Model ini biasanya digunakan oleh brand yang sudah memiliki sistem stabil dan ingin memastikan pendapatan tetap. Namun, bagi mitra, skema ini memiliki risiko karena beban biaya tidak menyesuaikan performa bisnis.
2. Contoh Margin Royalty Fee
Berbeda dengan sistem fixed, metode ini menghitung royalty fee berdasarkan persentase dari total penjualan (gross sales).
Sebagai contoh, jika ditetapkan royalty fee sebesar 5% dari omzet, dan dalam satu bulan Anda menghasilkan penjualan Rp100 juta, maka royalty fee yang harus dibayarkan adalah Rp5 juta.
Skema ini dianggap lebih fleksibel karena menyesuaikan kondisi bisnis. Ketika penjualan meningkat, royalty fee ikut naik, dan sebaliknya.
Dalam beberapa kasus, ada juga brand yang menerapkan sistem persentase bertingkat. Artinya, besar royalty fee akan berubah sesuai dengan level omzet yang dicapai.
Misalnya:
Omzet < Rp5 juta → royalty fee 2%.
Omzet Rp10 juta → royalty fee 5%.
Apabila penjualan meningkat, maka persentase royalty fee yang dikenakan pun turut bertambah.
Baca juga: Cara Menghitung ROI Sebelum Membeli Franchise Agar Tidak Rugi
Fungsi Royalty Fee
Jika dilihat lebih dalam, royalty fee adalah fondasi penting dalam skema bisnis franchise. Adapun fungsi royalty fee adalah sebagai berikut:
1. Menjaga Konsistensi dan Standar Kualitas Brand
Salah satu fungsi utama royalty fee adalah untuk memastikan bahwa seluruh jaringan bisnis berjalan dengan standar yang sama, baik dari segi rasa produk, pelayanan, hingga pengalaman pelanggan.
Sebab, dana dari royalty fee ini biasanya akan digunakan untuk melakukan quality control, audit operasional, hingga pengawasan rutin ke setiap outlet.
2. Mendukung Pengembangan Produk dan Inovasi
Pasar selalu berubah, begitu juga dengan selera konsumen. Tanpa inovasi, sebuah bisnis sangat rentan tertinggal dari kompetitor.
Nah, dalam hal ini royalty fee berperan penting sebagai sumber dana untuk riset dan pengembangan (R&D). Brand biasanya menggunakan dana ini untuk menciptakan menu baru, meningkatkan kualitas produk, hingga menyesuaikan penawaran dengan tren pasar.
3. Membiayai Strategi dan Aktivitas Pemasaran
Fungsi lain dari royalty fee adalah sebagai bahan bakar untuk mendukung aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh pusat. Biaya pemasaran yang dimaksud dapat mencakup kampanye digital, iklan, promosi nasional, hingga upaya kolaborasi.
Dengan adanya dukungan pemasaran terpusat, mitra tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun awareness dari awal.
4. Menyediakan Dukungan Operasional Berkelanjutan
Berbeda dengan franchise fee yang hanya dibayarkan sekali di tahap awal, royalty fee memungkinkan adanya dukungan jangka panjang bagi mitra bisnis.
Umumnya, dukungan ini dapat berupa pelatihan lanjutan, konsultasi bisnis, pembaruan SOP, hingga bantuan dalam menghadapi masalah operasional sehari-hari.
Artinya, ketika mitra menghadapi tantangan, misalnya seperti penurunan penjualan, kendala SDM, atau efisiensi operasional, mereka tidak harus mencari solusi sendiri sebab tim pusat siap membantu karena mitra sudah membayarkan royalty fee secara rutin.
5. Memperkuat Sistem dan Infrastruktur Bisnis
Belakangan ini sudah banyak sekali bisnis franchise yang menggunakan teknologi canggih untuk mengelola operasional, seperti sistem POS (Point of Sale), manajemen stok, hingga dashboard analitik penjualan.
Nah, biaya untuk pengembangan dan pemeliharaan sistem ini biasanya akan diambil dari royalty fee yang dibayarkan mitra secara rutin. Dengan begitu, mitra franchise juga akan diuntungkan sebab mereka bisa menikmati sistem yang canggih tanpa harus berinvestasi besar secara mandiri.
6. Menciptakan Hubungan Bisnis yang Berkelanjutan
Fungsi lain yang sering tidak disadari dari royalty fee adalah membantu menciptakan hubungan jangka panjang antara pemilik brand dan mitra.
Karena pendapatan franchisor bergantung pada performa mitra, mereka akan memiliki insentif khusus untuk terus membantu bisnis mitra berkembang. Sebab, semakin sukses mitra, semakin besar juga keuntungan yang didapat oleh pemilik brand.
Demikian ulasan mengenai royalty fee, mulai dari pengertian, perbedaan dengan franchise fee, fungsi, hingga contoh penerapannya dalam bisnis.
Dengan memahami konsep ini secara menyeluruh, Anda bisa lebih bijak dalam mengevaluasi peluang usaha dan memastikan setiap biaya yang dikeluarkan tetap sebanding dengan value yang Anda dapatkan.
Namun, memahami teori ini saja tentu belum cukup. Untuk benar-benar melihat bagaimana sistem franchise berjalan, strategi brand berkembang, hingga membandingkan langsung berbagai peluang bisnis dalam satu tempat, Anda perlu terjun langsung ke ekosistemnya.
Salah satu cara terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengunjungi Franchise & License Expo Indonesia (FLEI Business Show).
Di FLEI Business Show, Anda tidak hanya bisa menemukan berbagai brand franchise dari beragam industri, tetapi juga mendapatkan insight langsung dari para pelaku bisnis serta membuka peluang kerja sama yang potensial.
Jika Anda serius ingin memulai atau mengembangkan bisnis franchise, menghadiri FLEI Expo bisa menjadi langkah awal yang sangat strategis.
Yuk, manfaatkan kesempatan ini dan beli tiket ke FLEI Business Show atau hubungi tim kami untuk dapatkan informasi lebih lanjut seputar pamerannya. Kami tunggu kehadiran Anda di FLEI Business Show!
Baca juga: 8 Ide Bisnis Passive Income yang Menguntungkan & Cara Memulainya






















