Pernahkah Anda melihat sebuah gerai makanan, minimarket, atau kedai kopi yang memiliki banyak cabang di berbagai kota? Terkadang, tak semuanya dimiliki oleh satu orang, lho.
Banyak di antaranya berkembang melalui sistem waralaba atau franchise. Waralaba adalah sebuah model bisnis di mana seseorang menjalankan usaha menggunakan merek, produk, dan sistem operasional dari bisnis yang sudah ada.
Bagi calon pebisnis, sistem ini tentunya sangat membantu karena tak perlu repot-repot membangun bisnis dari nol. Lantas, apa yang dimaksud dengan waralaba? Bagaimana cara kerjanya, apa saja kriterianya, serta jenis-jenis waralaba yang ada di Indonesia? Yuk, telusuri seluk-beluknya di artikel ini.
Apa Itu Waralaba (Franchise)?
Franchise atau waralaba adalah model bisnis yang memberikan hak kepada pihak lain untuk menjalankan usaha menggunakan merek, sistem operasional, produk, hingga standar bisnis yang telah dimiliki dan terbukti berhasil oleh pemilik usaha.
Di Indonesia, pengertian waralaba diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba. Dalam peraturan tersebut, waralaba didefinisikan sebagai hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan kriteria tertentu untuk memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil, kemudian dimanfaatkan atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.
Sederhananya, melalui sistem waralaba seseorang tidak perlu membangun bisnis dari nol. Penerima waralaba dapat menggunakan nama merek, konsep usaha, standar operasional (SOP), sistem manajemen, hingga memperoleh pelatihan dan pendampingan dari pemilik merek (franchisor).
Sebagai imbalannya, penerima waralaba biasanya diwajibkan membayar biaya awal (franchise fee) dan royalty fee (pada beberapa jenis waralaba) yang dibayarkan secara berkala sesuai kesepakatan dalam perjanjian.
Istilah-Istilah dalam Model Bisnis Waralaba
Jika Anda tertarik bergabung dalam model bisnis waralaba, Anda perlu mengetahui berbagai istilah yang kerap dipakai dalam model bisnis ini.
Pasalnya, setiap istilah memiliki peran tersendiri yang berkaitan dengan hak, kewajiban, biaya, hingga operasional bisnis. Adapun istilah yang umum di model bisnis waralaba adalah sebagai berikut:
Franchisor: Pemilik merek atau perusahaan yang memberikan hak waralaba kepada pihak lain untuk menjalankan bisnis menggunakan merek, produk, sistem operasional, serta standar yang telah ditetapkan.
Franchisee: Individu atau badan usaha yang membeli hak untuk menjalankan bisnis waralaba milik franchisor.
Franchise Fee: Biaya awal yang dibayarkan franchisee kepada franchisor untuk memperoleh hak menjalankan bisnis waralaba.
Royalty Fee: Biaya yang dibayarkan secara berkala kepada franchisor selama kerja sama berlangsung.
Standard Operating Procedure (SOP): Prosedur panduan kerja yang mengatur seluruh proses operasional bisnis agar berjalan sesuai standar.
Merek Dagang: Identitas bisnis yang digunakan dalam kegiatan operasional waralaba, seperti nama usaha, logo, desain visual, hingga identitas pemasaran lainnya.
Outlet: Lokasi usaha tempat franchisee menjalankan operasional bisnis waalaba.
Master Franchise: Hak eksklusif yang diberikan franchisor kepada satu pihak untuk mengembangkan jaringan waralaba di wilayah tertentu, misalnya dalam satu provinsi atau negara.
Disclosure Document: Dokumen pengungkapan adalah dokumen yang berisi informasi penting mengenai bisnis waralaba sebelum kerja sama dilakukan.
Perjanjian Waralaba: Kontrak tertulis yang menjadi dasar kerja sama antara franchisor dan franchisee.
Baca juga: 6 Perbedaan Franchise dan Kemitraan, Jangan Tertukar!
Kriteria Bisnis Waralaba
Tidak semua bisnis dapat disebut sebagai waralaba. Di Indonesia, sebuah usaha harus memenuhi sejumlah persyaratan tertentu agar dapat dikembangkan melalui sistem waralaba. Adapun kriteria dalam bisnis waralaba adalah sebagai berikut:
1. Memiliki Ciri Khas Usaha
Waralaba harus memiliki karakteristik atau keunikan yang membedakannya dari bisnis sejenis.
Ciri khas tersebut dapat berupa produk, resep, layanan, konsep bisnis, metode operasional, teknologi, maupun identitas merek yang menjadi nilai tambah di mata konsumen.
2. Terbukti Sudah Memberikan Keuntungan
Sebelum ditawarkan kepada calon mitra, bisnis waralaba harus telah terbukti berhasil dijalankan dan menghasilkan keuntungan.
Artinya, model bisnis tersebut bukan sekadar konsep atau usaha yang baru dirintis, melainkan telah memiliki rekam jejak operasional yang menunjukkan potensi keberhasilan apabila diterapkan oleh mitra.
3. Memiliki Standar Pelayanan dan Barang atau Jasa yang Tertulis
Bisnis waralaba wajib memiliki standar operasional yang terdokumentasi secara jelas, baik dalam proses produksi maupun pelayanan kepada pelanggan.
Standar ini biasanya dituangkan dalam Standard Operating Procedure (SOP) atau manual operasional agar setiap outlet mampu menghasilkan kualitas produk dan layanan yang konsisten.
4. Mudah Diajarkan dan Diaplikasikan
Sistem bisnis yang ditawarkan harus mudah dipelajari serta dapat diterapkan oleh franchisee setelah memperoleh pelatihan.
Karena itu, franchisor umumnya menyediakan panduan operasional, pelatihan, hingga pendampingan agar mitra dapat menjalankan bisnis sesuai standar yang telah ditentukan.
5. Memiliki Dukungan yang Berkesinambungan
Franchisor tidak hanya menjual hak penggunaan merek, tetapi juga memberikan dukungan secara berkelanjutan kepada franchisee
6. Memiliki Hak atas Kekayaan Intelektual yang Terdaftar
Bisnis waralaba harus memiliki Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) yang telah terdaftar atau setidaknya telah diajukan pendaftarannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
HKI tersebut dapat berupa merek dagang, logo, hak cipta, paten, desain industri, maupun bentuk kekayaan intelektual lainnya yang menjadi identitas dan aset bisnis.
Dengan adanya perlindungan hukum ini, penggunaan merek oleh franchisee menjadi lebih aman dan memiliki kepastian hukum.
Baca juga: 8 Bisnis yang Termasuk dalam Kategori Waralaba
Jenis-Jenis Waralaba & Cara Kerjanya
Perlu diketahui bahwa ada model bisnis waralaba yang memberikan paket bisnis secara menyeluruh, dan ada juga yang hanya berfokus pada distribusi produk.
Secara umum, World Franchise Council (WFC) membagi sistem waralaba menjadi dua jenis utama, yaitu Business Format Franchising dan Product Distribution Franchising.
Keduanya sama-sama melibatkan kerja sama antara pemilik merek dan mitra, tetapi memiliki sistem dan cakupan yang berbeda.
1. Business Format Franchising
Business Format Franchising merupakan jenis waralaba yang paling banyak dijumpai, terutama pada industri makanan dan minuman, minimarket, pendidikan, hingga berbagai bisnis jasa.
Dalam model ini, franchisee tidak hanya memperoleh hak untuk menggunakan nama merek, tetapi juga mendapatkan paket bisnis yang lengkap.
Mulai dari konsep usaha, sistem operasional, pelatihan, hingga strategi pemasaran telah disiapkan oleh franchisor agar seluruh outlet memiliki standar yang sama.
Beberapa fasilitas yang umumnya diberikan kepada franchisee antara lain:
Hak atas merek dagang dan logo.
Buku panduan operasional (SOP).
Pelatihan bagi pemilik dan karyawan.
Bantuan desain serta tata letak outlet.
Strategi pemasaran dan promosi.
Pendampingan operasional.
Pengawasan dan kontrol kualitas secara berkala.
2. Product Distribution Franchising
Berbeda dengan Business Format Franchising, model Product Distribution Franchising bisa dibilang hadir dengan sistem yang jauh lebih sederhana.
Pada jenis ini, franchisor pada dasarnya memberikan hak kepada mitra untuk menjual produknya dengan menggunakan nama dagang atau merek yang dimiliki.
Namun, franchisor tidak memberikan sistem operasional bisnis secara menyeluruh seperti SOP, pelatihan intensif, dan standar pengelolaan outlet.
Artinya, franchisee bisa lebih leluasa dalam mengatur operasional usahanya sendiri, selama tetap memenuhi ketentuan terkait penjualan produk dan penggunaan merek.
Contoh Bisnis Waralaba
Karena waralaba adalah sistem bisnis yang banyak diminati, saat ini, pilihan bisnis waralaba di Indonesia juga semakin beragam.
Tidak hanya didominasi oleh restoran cepat saji, model bisnis waralaba kini juga mencakup sektor minuman, ritel, jasa, pendidikan, kesehatan, hingga kecantikan, lho.
1. Waralaba Makanan
Salah satu sektor bisnis yang banyak menggunakan konsep waralaba adalah industri makanan. Beberapa contoh bisnis waralaba makanan antara lain:
KFC.
CFC (California Fried Chicken).
Sabana Fried Chicken.
Rocket Chicken.
Roti'O.
Ayam Geprek Bensu.
Hisana Fried Chicken, dll.
2. Waralaba Minuman
Selain makanan, waralaba adalah model bisnis yang juga ramai diterapkan pada sektor bisnis minuman. Beberapa merek minuman yang membuka peluang waralaba adalah sebagai berikut:
Xi Bo Ba.
Chatime.
Teh Poci.
Haus!
Es Teh Indonesia, dll.
Baca juga: Franchise Haus! Keliling Berapa? Ini Biaya & Syarat Gabungnya!
3. Waralaba Ritel
Model waralaba juga banyak diterapkan pada bisnis ritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Contohnya meliputi:
Alfamart.
Lawson.
Circle K, dll.
Bisnis ritel umumnya membutuhkan investasi yang lebih besar dibandingkan dengan waralaba makanan atau minuman. Namun, pangsa pasarnya tentu relatif lebih stabil, ya.
4. Waralaba Jasa
Perlu diingat bahwa waralaba adalah konsep bisnis yang tidak hanya berlaku untuk penjualan produk. Kini, banyak bisnis jasa juga mulai mengembangkan peluang mereka dengan membuka peluang franchise. Beberapa contohnya adalah:
JNE.
Lion Parcel.
Apotek K-24.
Klinik kecantikan.
Tempat cuci kendaraan.
Laundry kiloan.
Demikian informasi lengkap seputar waralaba, mulai dari pengertian, kriteria, jenis, hingga sejumlah contohnya.
Nah, apabila Anda sedang mencari peluang bisnis waralaba atau franchise, Anda dapat mengunjungi Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) untuk menemukan berbagai peluang franchise yang bervariasi, mulai dari franchise modal kecil hingga yang benar-benar matang.
Sebaliknya, jika Anda adalah pemilik bisnis yang ingin memperluas sayap bisnis dan jaringan kemitraan, memperkenalkan konsep waralaba kepada calon investor, atau mencari mitra bisnis baru, FLEI Business Show juga bisa menjadi wadah yang tepat.
Anda dapat bergabung dan mendaftar sebagai exhibitor untuk memamerkan bisnis di hadapan ribuan calon franchisee, investor, distributor, maupun pelaku usaha yang memang sedang mencari peluang bisnis.
Dengan begitu, Anda bisa meningkatkan brand exposure, mempercepat ekspansi bisnis, serta membangun jaringan dengan sesama pelaku industri waralaba.
Untuk mengetahui jadwal pameran FLEI Business Show terdekat, Anda bisa menghubungi tim kami. Selain itu, jangan lupa juga untuk mengikuti akun Instagram @fleiexpoid agar tidak ketinggalan informasi terbaru seputar pameran, peluang bisnis, dan tren franchise di Indonesia, ya!
Baca juga: 10 Cara Beli Franchise & Tips Agar Untung Maksimal, Catat!




















